Sinopsis Film Walking Dead Tomate Rilis April 2020

74
0
Review Film Walking Dead Tomate

Review Film By ImGroot – Film Walking Dead Tomate merupakan film bergenre horor yang mengangkat kebudayaan Toraja. Film yang disutradarai oleh Ekadi Katili Pongliku ini sengaja dibuat sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang, dimana di Toraja hal tersebut merupakan warisan kebudayaan yang sangat dijunjung tinggi. Bahkan film ini pun terinspirasi dari banyaknya kasus pencurian tengkorak hingga barang berharga dari pemakaman masyarakat Toraja. Karena itu, lewat film ini sang sutradara ingin mengajak penonton untuk lebih menghormati kebudayaan daerah yang semestinya dijaga hingga turun temurun.

Walking Dead Tomate telah mulai dikerjakan sejak Desember 2017 oleh rumah produksi Cinekadi Picture. Uniknya, film ini banyak melibatkan putera puteri Toraja asli, termasuk sang sutradara. Lewat film ini kita bisa belajar dan mengenal lebih dekat bagaimana kebudayaan di Toraja, terutama yang berhubungan dengan nenek moyang maupun orang tua yang telah tiada, pemakaman dan kebudayaan leluhur. Rencananya film ini akan ditayangkan di bioskop pada 16 April 2020.

Cerita bermula saat Yuna, Dewa dan Andy yang berasal dari Makassar bertugas untuk meliput kebudayaan Toraja, tepatnya di desa Penggala. Hasil liputan tersebut akan diikutsertakan dalam perlombaan fotografi di luar negeri. Mereka sendiri merupakan mahasiswa jurusan budaya di sebuah perguruan tinggi di Makassar. Mulanya, peliputan yang mereka lakukan berlangsung dengan lancar dan tidak ada masalah.

Dalam perjalanan dan melakukan liputan, mereka ditemani oleh seorang pemandu lokal yang bernama Kinaya, yang sangat memahami seluk beluk kebudayaan Toraja. Dalam film ini, kita akan disajikan bagaimana masyarakat Toraja melakukan ritual untuk jenazah orang tua yang telah meninggal. Kebudayaan tersebut antara lain adalah Rambu Solo’ dan Ma’nene. Saat proses Ma’nene atau penggantian baju jenazah dilakukan, tanpa sengaja Dewa menemukan sebuah kalung milik jenazah tersebut yang bernama Almarhumah Nenek Limbong Bulaan.

Himpitan ekonomi dan kondisi ibu yang sedang sakit parah, membuat Dewa tertarik untuk mengambil kalung tersebut. Hal inilah yang memicu munculnya berbagai kejadian mistis di antara mereka. Sesampainya di hotel, mereka mulai mengalami teror dan kejadian aneh. Bahkan Dewa sampai ditemukan tidak sadarkan diri, hingga secara perlahan tubuh Dewa mulai melepuh seperti yang terjadi pada mayat.

Sebagai pimpinan dari proyek liputan tersebut, Clara memerintahkan Dewa untuk kembali ke Toraja dan mengembalikan kalung tersebut ke tempat asalnya. Mereka juga harus melibatkan “orang pintar” yang bernama Om Sarungu demi terbebas dari teror mistis yang telah mereka alami. berhasilkah Dewa mengembalikan kalung tersebut dan menghentikan kejadian mistis yang terus terjadi?

Film ini memang cukup layak untuk diperhitungkan, dengan mengangkat kebudayaan lokal secara tidak langsung sang sutradara ingin mengedukasi orang lain untuk menghormati kebudayaan leluhur, termasuk menghormati orang tua bahkan sampai meninggal dunia. Kombinasi kebudayaan dan cerita horor yang disajikan akan membuat siapapun yang menonton film ini merasakan sensasi berbeda dibandingkan dengan film-film horor pada umumnya.