Puisi Gadis Peminta Minta serta Analisis Unsur Puisinya

1015
0
Puisi Gadis Peminta Minta

Puisi Gadis Peminta Minta Karya Toto S. Bachtiar sangat banyak sekali dicari oleh orang-orang sampai sekarangpun. Jika anda ingin mempelajari serta menganalisis puisi karya Toto S. Bachtiar ini yang berjudul “Gadis Peminta-Minta” maka di sinilah tempat yang tepat.

Puisi Gadis Peminta minta

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan

Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bias membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan diatas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak punya lagi tanda

(Karya Toto Sudarto Bachtiar, Tonggak 2, halaman 3)

Baca juga : Cara Mengatasi Pengangguran Friksional Lengkap Dan Tipsnya

Analisis Puisi Karya Karya Toto Sudarto Bachtiar

A. Pendekatan Struktural

1. Analisis Tema

Pada puisi karya Toto S. Bachtiar ini mengangkat sebuah cerita tentang seseorang yang bertemu dengan seorang gadis kecil yang pada saat itu gadis kecil yang merupakan seorang pengemis yang selalu membawa sebuah kaleng kecil yang ia bawa.
Seseorang tersebut berusaha untuk merasakan akan perasaan gadis kecil tersebut, yang menurutnya gadis kecil tersebut memendam sebuah duka yang begitu dalam.
Kepekaan rasa seseorang tersebut atau kepeduliannya terhadap si gadis kecil pembawa kaleng itu tercurahkan dalam penggalan lirik puisinya yang bisa anda lihat dibawah ini :

‘Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil’

‘Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka’

‘Tengadah padaku, pada bulan merah jambu’

Penggalan puisi di atas begitu bermakna dan secara tidak langsung dapat memberitahukan kepada kita semua yang membaca puisi tersebut agar lebih bersimpati atau peduli antar sesama.

2. Analisis Segi Bahasa atau Sudut Pandang

Seperti pada kebanyakan puisi yang sering menggunakan bahasa “Pengandaian”, yang dimana setiap pembacanya harus bisa untuk memahami serta menafsirkan sendiri puisi tersebut.
Sama dengan penggalan puisi Gadis Peminta-minta di bawah ini :

‘Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil’

Jika dilihat dari sudut pandangnya puisi ini menggunakan sudut pandang orang kesatu, siapa orang kesatu disini? orang kesatu di puisi ini bisa saja sebagai si pembuat puisi ini sendiri, ataupun anda sebagai pembacanya.
Untuk lebih memahaminya anda mungkin bisa melihat penggalan puisi selanjutnya di bawah ini:

‘Tengadah padaku, pada bulan merah jambu’

‘Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa’

Dari penggalan puisi di atas mungkin anda sudah memahaminya. Bahwa kata “KU” pada penggalan puisi diatas bisa saja ditujukan ke pengarang puisi ini, ataupun kepada para pembacanya.
Sedangkan untuk kata “MU”, dan “KAU” tentu ditujukan kepeada si “gadis kecil yang membawa kaleng”.

3. Analsis Diksi

Diksi ialah saat dimana seorang penyair puisi melakukan pemilihan kata-kata untuk puisi yang dibuatnya.
Dalam puisi yang berjudul “Gadis Peminta-minta” Toto Sudarto Bachtiar menggunakan kata-kata atau bahasa yang cukup mudah dipahami serta mungkin sering anda dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Kata-kata yang dimaksud sebagai contohnya ialah : contoh duka, kemayaan, tengadah, menara, dan masih banyak juga yang lainnya. Walau menggunakan bahasa sehari-hari puisi karya Toto Sudarto tersebut masih terlihat indah dan bagus.

4. Analisis Tipografi puisi / perwajahan puisi

Tipografi adalah suatu hal penting yang membedakan antara puisi, prosa, dan drama. Tipografi bisa dilihat sebagai sebuah bentuk puisi yang seperti halaman dimana tidak banyak kata-kata, pengaturan baris, tepi kanan kiri, hingga tampilan baris puisi yang tidak selalu diawali dengan huruf kapital serta diakhiri oleh tanda titik.

5. Analisis Citraan atau Imaji

Imaji atau bisa dibilang Pengimajian adalah susunan kata yang bisa untuk mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti contohnya: penglihatan, pedengaran, perasaan, serta perabaan.
Pengimajian memiliki ciri dari penggunaan kata-katanya yang konkret serta memiliki sebuah khas.

Contoh dalam penggalan puisi “Gadis Peminta-minta” di bawah ini, bisa dilihat penggalan puisi di bawah ini menggunakan imaji visual atau citraan penglihatan :

‘Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil’

‘Senyummu terlalu kekal untuk kekal untuk duka’

‘Tengadah padaku, pada bulan merah jambu’

‘Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa’

6. Analisis Kata Kongkret

Kata kongkret adalah sebuah kata yang dapat ditangkap dengan indera sehingga dapat kemungkinan memunculkan imaji.
Contoh kata konkret yang muncul dalam penggalan puisi “Gadis Peminta-minta” karya Toto Sudarto Bachtiar ialah:

‘Senyummu terlalu kekal untuk kekal untuk duka’

‘Tengadah padaku, pada bulan merah jambu’

‘Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa’

Dalam penggalan puisi di atas menjelaskan bahwa senyum gadis kecil itu seakan-akan membangkitkan sisi kemanusiaan si penyair.
Sehingga penyair tersebut merasa bahwa si gadis kecil itu sedang tengadah tanpa harapan. Maka dari itu gadis kecil tersebut tidak mudah mencari belas kasihan. Kota itu menjadi hilang tanpa jiwa.

7. Analisis Rima, Ritma dan Metrum (Versifikasi)

Versifikasi yang menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima merupakan persamaan bunyi pada sebuah puisi, baik pada bagian awal, tengah, serta bagian akhir baris puisi tersebut.

Contoh rima yang terkait pada bait pertama puisi “Gadis Peminta-minta”

‘Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil’

‘Senyummu terlalu kekal untuk kekal untuk duka’

‘Tengadah padaku, pada bulan merah jambu’

‘Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa’

Rima yang terdapat pada bait pertama berada di bagian tengah ialah (aaaa) yang berakhiran (uuuu) ialah pada huruf yang bergaris bawah.

8. Analisis Setting

Analisis setting untuk puisi “Gadis Peminta-minta” jika dilihat mungkin memang kurang jelas. Namun masih dapat disimpulkan tempat semua kejadian dalam puisi tersebut ialah “di atas langit di bawah bumi” atau bisa dibilang bahwa tempatnya tidak tetap atau berpindah-pindah, karena menceritakan seorang gadis yang hidup gelandangan.
Contohnya dalam penggalan berikut ini :

‘Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil’
‘Bulan diatas itu, tak ada yang punya’
‘Dan kotaku, ah kotaku’
‘Hidupnya tak punya lagi tanda’

Yang ditangkap dalam penggalan puisi di atas kata “bulan” bisa diartikan sebagai lampu malam.

Terima kasih sudah membaca artikel dengan judul “Puisi Gadis Peminta-minta”

Jangan lupa share ya jika bermanfaat di sosial media kalian seperti FB, Twitter, dll

 

 

 

*Sumber referensi : contoh-analisis-puisi(dot)blogspot(dot)com dan brainly(dot)co(dot)id

0