5 Kerusuhan Paling “Anti” Dalam Sejarah Indonesia

538
18
Daftar Kerusuhan Paling Anti Di Indonesia
Daftar Kerusuhan Paling Anti Di Indonesia

Cieeee yang kemarin abis rusuh-rusuh ๐Ÿ˜‰ , kali ini Aorlin ingin compare apa saja sih perbedaan antara kerusuhan mulai dari tahun 1966 sampai 2019. Pada dasarnya kerusuhan-kerusuhan itu terkait dengan transisi pemerintahan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan Demokrasi.

Nah disini intinya para perusuh pasti membawa tema Anti-antian, mulai dari yang slogan yang cukup, lumayan hingga yang tak berfaedah (konyol maksimal) sama sekali.

Berikut Daftar Kerusuhan yang paling berkesan dalam catatan sejarah Republik Indonesia:

1. Kerusuhan Anti Komunis, 1965-1966

Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menuding PKI adalah aktor utama sekaligus dalang peristiwa berdarah itu. Soeharto pula yang berinisiatif mengamankan ibu kota. Unjuk rasa mahasiswa โ€“yang didukung ADโ€“merebak. Tuntutannya: bubarkan PKI dan ganyang sampai ke akar-akarnya.

Sentimen anti-komunis di Jakarta melibatkan puluhan ribu orang, termasuk yang digalang gerakan gabungan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dengan dukungan tentara. Aksi pembersihan yang berujung kerusuhan antar-rakyat pun dimulai.

Pada 8 Oktober 1965, markas pusat PKI di Jakarta dibakar. Siapa saja yang dituding PKI atau organisasi yang dianggap kiri, seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), Gerakan wanita Indonesia (Gerwani), dan lain-lain, diganyang.

Kala itu, di ibu kota juga merebak sentimen anti-Cina. Victor M. Fic dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi (2005) mengungkapkan, terjadi pembakaran rumah-rumah dan penghancuran harta, juga nyawa, yang tidak kenal ampun.

Puncaknya terjadi pada 24 Februari 1966. Unjuk rasa digelar di depan Istana Negara Jakarta yang berujung bentrokan dengan Resimen Cakrabiwara (Pasukan Pengawal Presiden), dan menelan korban jiwa, salah satunya seorang demonstran bernama Arif Rahman Hakim.

Menurut catatan M. C. Ricklefs melalui buku A History of Modern Indonesia (1991), di Jakarta dan Jawa Barat, lebih dari 10.000 orang yang disebut terkait PKI ditangkap. Sebagian dipenjara tanpa pengadilan, sebagian lainnya dibantai.

Kerusuhan Anti Asing
Kerusuhan Anti Asing

2. Kerusuhan Anti Asing, 15 Januari 1974

Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) pada 1974 menjadi kerusuhan massal pertama yang terjadi di rezim Orde Baru setelah Soeharto naik menjadi presiden usai berhasil mengambil-alih kekuasaan dari Sukarno pasca-G30S 1965.

Isu utama yang diusung saat itu adalah penolakan modal asing. Tanggal 14 Januari 1974 malam, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma dan dijadwalkan berada di Jakarta selama tiga hari.

Sejak pagi harinya, ribuan massa, termasuk mahasiswa dan pelajar, sudah melancarkan protes menentang investasi Jepang ke Indonesia. Dikutip dari Man of Honor (2013) suntingan Teguh Sri Pambudi dan kawan-kawan, terjadi aksi bakar-bakaran sedari pukul 10 pagi di sejumlah sudut ibu kota.

Tanggal 15 Januari 1974 atau keesokan harinya, gerakan massa yang didominasi kalangan mahasiswa melakukan longmars dari Universitas Indonesia di Salemba menuju Universitas Trisakti di Grogol.

Siang menjelang sore, sekitar pukul 14.30, mulai terjadi perusakan yang dilakukan sejumlah orang di Jakarta Pusat. Salah satunya di Pasar Senen. Proyek kompleks pertokoan yang belum lama dibangun rusak parah dibakar massa. Demonstrasi yang diwarnai kerusuhan dan penjarahan terjadi hingga dua hari berikutnya.

Malari menghasilkan banyak kerusakan di Ibu Kota. Asvi Warman Adam mencatat dalam Membongkar Manipulasi Sejarah (2009), sebanyak 807 mobil dan motor buatan Jepang dibakar massa, 11 orang tewas, 300 luka-luka, 144 unit bangunan rusak berat, 160 kilogram dari toko-toko perhiasan raib dijarah.

Soeharto murka. Soemitro dicopot dari jabatannya sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) karena dianggap gagal menjalankan tugasnya. Orde Baru pun menerapkan aturan yang jauh lebih ketat terhadap gerakan mahasiswa setelah itu.

Kerusuhan Anti Nonpri
Kerusuhan Anti Nonpri

3. Kerusuhan Anti Pemerintah dan Anti Nonpri, 1984

Peristiwa berdarah di Ibu Kota kembali terjadi tepat satu dasawarsa setelah Malari. Kali ini berpusat di pesisir utara Jakarta, Tanjung Priok. Tanggal 12 September 1984, pecah kerusuhan antara umat muslim dengan aparat Orde Baru. Nyaris semua korban tewas akibat terkena tembakan tentara.

Tragedi ini dipicu penolakan aturan asas tunggal Pancasila yang dipaksakan pemerintahan Soeharto. Tohir Bawazir dalam Jalan Tengah Demokrasi (2015) menuliskan, siapapun yang tidak sejalan dengan garis politik rezim maka layak dituduh sebagai anti-Pancasila.

Pangkal masalah berawal saat dua petugas Bintara Pembina Desa (Babinsa) masuk ke Musala As-Saโ€™adah di Gang IV Koja, Tanjung Priok, tanpa melepas sepatu. Maksud kedatangan mereka adalah untuk mencopot pamflet yang dianggap berisi ujaran kebencian terhadap pemerintah.

Terjadi pertengkaran antara sejumlah jemaah dengan dua anggota Babinsa itu. Kemudian, keduanya diajak masuk ke ruang pengurus Masjid Baitul Makmur, tidak jauh dari musala. Namun, kabar telah terlanjur beredar sehingga warga mulai berdatangan ke masjid.

Situasi tiba-tiba ricuh karena salah seorang dari kerumunan membakar sepeda motor milik Babinsa itu. Aparat yang sudah didatangkan segera bertindak menangkap empat orang yang diduga menjadi provokator, termasuk si pembakar motor.

Masyarakat meminta polisi melepaskan empat warga yang ditahan. Namun lantaran tak dipenuhi, pagi tanggal 12 September 1984, lebih dari 1.500 orang bergerak sebagian menuju Polres Tanjung Priok, yang lainnya ke arah Kodim.

Kerusuhan pun pecah karena pasukan militer sudah siaga mengadang barisan rakyat. Peringatan aparat dibalas takbir oleh massa yang terus merangsek dan langsung disambut dengan rentetan tembakan senapan otomatis. Orang-orang pun tumbang, bergelimpangan. Darah membasahi tanah Tanjung Priok.

Dikutip dari Pengadilan HAM ad hoc Tanjung Priok (2005) karya A.M. Fatwa, Panglima ABRI saat itu, L.B. Moerdani, mengatakan bahwa 18 orang tewas dan 53 orang luka-luka dalam insiden tersebut.

Namun, data berbeda diajukan Solidaritas untuk Peristiwa Tanjung Priok (Sontak) yang menyebut tidak kurang dari 400 orang tewas dalam tragedi berdarah itu, belum termasuk yang luka dan hilang, demikian dinukil dari laporan Suara Hidayatullah (1998).

Kerusuhan Anti Cina
Kerusuhan Anti Cina

4. Kerusuhan Anti Soeharto dan Anti Cina, Mei 1998

Presiden Soeharto sedang mengikuti KTT G-15 di Kairo, Mesir, saat terjadi gelombang demonstrasi di Jakarta. Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak peluru aparat. Kaum mahasiswa marah dan mempersiapkan aksi berikutnya dengan skala lebih besar.

Tanggal 13 Mei 1998, massa di luar kampus Trisakti tak terkendali. Massa yang bukan dari kalangan mahasiswa ini bahkan mulai merusak dan membakar kendaraan yang mereka temui. Sekelompok rombongan lainnya membakar pom bensin di Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat.

Dari situlah kerusuhan kemudian menjalar ke banyak lokasi lain di Ibu Kota selama beberapa hari berikutnya hingga Soeharto kembali ke tanah air sebelum akhirnya menyatakan mundur dari kursi kepresidenan tanggal 21 Mei 1998.

Salah satu sasaran utama kaum perusuh adalah aset milik kalangan keturunan Tionghoa di Jakarta. Banyak pertokoan, kantor-kantor, dan rumah pribadi, yang dianggap milik orang peranakan Cina dibakar, dihancurkan, juga dijarah.

Lebih sadis lagi, seperti ditulis Usman Hamid dalam buku Menatap Wajah Korban (2005), terjadi banyak kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, bahkan pembunuhan, terhadap ratusan wanita keturunan Tionghoa. Ini belum termasuk korban tewas lainnya.

Data dari relawan yang dikumpulkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menyebutkan korban tewas akibat rangkaian kerusuhan ini mencapai lebih dari 1.200 orang, belum termasuk mereka yang luka-luka dan kerugian materiil.

Kerusuhan Anti Waras
Kerusuhan Anti Waras

5. Kerusuhan Anti Waras, Mei 2019

Setelah KPU mengumumkan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Maโ€™ruf Amin meraih suara terbanyak dalam penghitungan suara Pilpres 2019, ratusan orang pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggelar demonstrasi damai di depan Gedung Bawaslu, di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 21 Mei 2019.

Aksi ini berjalan relatif damai hingga massa meninggalkan lokasi usai salat tarawih. Namun, kemudian datang rombongan massa tak dikenal yang melakukan aksi provokatif dan akhirnya terlibat bentrok dengan aparat keamanan.

Kericuhan berlanjut hingga keesokan harinya, tanggal 22 Mei 2019, dan terjadi di beberapa titik di ibu kota. Massa aksi melempari aparat kepolisian dengan batu dan kembang api. Beberapa unit bangunan, termasuk asrama polisi, juga kendaraan bermotor dihancurkan dan dibakar.

Hingga 23 Mei 2019 siang, Kadiv Humas Polri Irjen M. Iqbal menyebut tujuh orang meninggal. Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan lebih dari 450 orang harus mendapatkan pelayanan kesehatan, sebagian besar di bawah usia 30 tahun.

Polisi juga sudah menahan 257 tersangka yang diduga menjadi provokator. Ada juga satu unit ambulan berlabelkan salah satu parpol yang berisi batu-batuan, amplop uang dan logistik lainnya.

Gambar-gambar diatas hanya ilustrasi, sebagian besar isi artikel saduran dari : https://tirto.id/sejarah-kerusuhan-di-jakarta-dari-1965-hingga-2019-dW8j

18 KOMENTAR

  1. Saya itu paling demen dengan sejarah. Dan semua peristiwa itu sudah saya baca dan saya dalami dengan sebaik mungkin.
    Kadang negara kita itu ada lucunya. Mudah sekali terkena sinteman. Tapi masih baguslah, walau marah-marahan tidak sampai keajang pembunuhan atau peperangan seperti yang terjadi negara timur sana.
    Anti PKI dan Cina, sepertinya masih jadi senjata yang paling mujarab ya? Dikit-dikit PKI, dikit dikit dadar C@@@. Saya kadang sampai mengelus dada, eh dada sendiri ya bukan dada pacar ๐Ÿ™‚
    Tapi ya semua itu adalah sebuah pembelajaran atau sebuah pendidikan.
    Anti cina, eh jaman pak harto justru condong ke cina kan ya? ingin mendekat ke barat tidak diterima, contohny kena embargo senjata.
    Kerusuhan ya baru ini? Sebenarnya saya sudah menebak akan terjadi huru-hara, untuk saja, Kapolri dan panglima TNI nya sigap, jadi tidak meluas.

    • Iya mas, dari dulu sepertinya rakyat Indonesia ingin membentuk semacam negara Antisocial kali ya, wkwkwk
      Terimakasih sudah mampir, sukses selalu…
      ๐Ÿ˜‰

  2. Saya orang yang buta sejarah :v jadi, saya mau nanya nih apa benar kalau dulu saat zaman pak harto banyak rumah china dibakar? Terus katanya banyak wanita china yang diperkosa? :v saya cuma dengar-dengar doang dari teman :v

  3. kerusuhan 98 waktu itu saya masih kecil imut2, dan tingal di daerah pedalaman (yg bahkan listrik belum masuk), karena waktu itu kamu mengandalkan genset solar. tapi bahkan kabarnya sampai ke daerah kami, karena di siarkan oleh tv hinga berhari2. apalagi moment pengunduran diri presiden ke 2, sampai2 banyak sekali yang menonton.

  4. Tiap kali dengar kata ‘kerusuhan’ dan sejenisnya. Hati terasa miris. Kadang ingin mengutarakan pendapat, tapi sering terbantah oleh argumen orang-orang yang mengaku paling cerdas dan paling tahu di dalam hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here